Dibawah Lentera Merah

Selamanya saya hidup, Selamanya

Saya akan berikhtiar, Menyerahkan Jiwa

Saya guna keperluan Rakyat

Penggalan puisi itu adalah merupakan suatu ungkapan perasaan seseorang yang teramat mengasihi rakyatnya dan dituangkan dalam bentuk puisi. Sebagaimana yang kita ketahui, puisi adalah merupakan salah satu bentuk kebudayaan manusia sejak zaman dahulu kala.

Puisi tersebut ditulis oleh Semaoen, seorang tokoh yang sangat fenomenal. Mengapa dikatakan fenomenal? Karena beliaulah salah satu tokoh di balik pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948. Dikatakan fenomenal karena dibalik maknawi yang terkandung dalam puisi itu dapatlah dilihat bahwa sebenarnya Semaoen adalah tokoh yang sangat mengasihi bangsanya. Sedemikian besar rasa kasih tersebut dikatakan bahwa ia rela menyerahkan jiwa raganya demi keperluan rahayat, kaum ndeso dan orang-orang yang membutuhkan kasih sayang.

Tapi pada tulisan ini kita tidaklah membahas mengenai Semaoen dan sepak terjangnya didalam PKI dan kegiatannya. Tetapi yang kita lihat disini adalah suatu bentuk cinta kasih kepada rakyatnya yang belum tentu dikenal semua oleh beliau. Bayangkan. Saat ini pemimpin kurang memiliki cinta kasih padahal cinta kasih sangat diperlukan dalam kehidupan.

Didalam ajaran Kristus juga didapati suatu bentuk kasih sayang terhadap sesama manusia. Dikatakan dalam ajaran Kristus ialah bahwa manusia harus mengasihi 3 hal: Mengasihi dirinya sendiri, Mengasihi Manusia lain dan mengasihi Alam semesta. Begitu pula dalam Islam, Ada istilah Hablumminnaa naas atau hubungan antar manusia, dimana setiap manusia harus mengasihi setiap manusia tanpa kecuali, tanpa memandang suku bangsa, ras maupun agama! Karena Islam adalah agama yang suci dan tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam bentuk apapun bahkan Islam mengajarkan untuk menebarkan kebaikan bagi semesta alam.

Adalah suatu makna yang tersebut dalam ajaran agama tersebut, atau dapatlah dikatakan suatu benang merah mengenai ajaran mengasihi dan dikasihi. Manusia adalah suatu makhluk social, zoon politicon dan selalu bergantung pada hal-hal lain diluar kemampuannya.

Semua Agama telah mengajarkan mengenai rasa kasih sayang sejak zaman dahulu. Apabila ada suatu rasa kasih, maka selalu dikaitkan dengan suatu pengorbanan seseorang demi tercapai rasa kasih yang dimiliki. Siddharta Gautama yang rela sengsara bertahun-tahun demi mencari obat yang dapat membebaskan penderitaan umat manusia; Yesus Kristus yang rela disalib demi segenap umatnya; dan Nabi Muhammad SAW yang merupakan Nabi terakhir dan penyelamat seluruh umat manusia rela mengorbankan segalanya demi umat Islam.

Mengapa harus ada pengorbanan? Pertanyaan ini sama esensinya dengan “Mengapa harus ada matahari? Padahal terang bulan sudah cukup untuk menerangi alam” Pengorbanan dapatlah dikatakan sebagai syarat, kalau tidak ingin dikatakan keharusan. Dimana setiap jalan yang dipilih selalu ada pengorbanan, resiko dan kegagalan.

1 Oktober 1965, dimana terjadi pemberontakan adalah merupakan suatu pengorbanan semua orang yang terlibat pada waktu itu. Resiko yang ada ialah apabila TNI/ABRI gagal maka Negara ini akan menjadi Negara Komunis Sosialis. Didalam setiap kehidupan manusia selalu ada 3 hal pokok tersebut.

Yang perlu disikapi adalah ingatkah manusia akan pentingnya berkorban demi mewujudkan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada orang lain? Bahkan yang belum dikenal sekalipun?

Yang Mulia Pahlawan Besar Revolusi Presiden Soekarno adalah contohnya. Dia berkorban segalanya demi setiap manusia Indonesia yang bernafas dan hidup di Indonesia. Satu lagi yang penting didalam suatu pengorbanan adalah keikhlasan. Manusia harus ikhlas didalam hidupnya. Ada suatu film layar lebar dimana pemeran utama diperbolehkan melamar seorang wanita anak seorang pemuka agama dengan syarat menguasai ilmu “Ikhlas”.

Ikhlas dapat diartikan sebagai nrimo, menerima segala kehendak yang terjadi dalam hidupnya. Apabila Ikhlas ada ilmunya maka itu adalah misteri bagi setiap manusia dimana hanya manusia itu sendiri yang bisa memecahkan. Kehidupan manusia selalu terdapat suatu rasa dan perasaan peduli kepada orang lain. Kasih orangtua kepada anak, Kasih seseorang kepada saudaranya, Kasih pemimpin kepada rakyatnya. Sehingga hidup ini adalah suatu pengaplikasian rasa cinta kasih yang dimiliki.

Kasih sayang setiap manusia merupakan hal yang esensial, dan merupakan bentuk kepedulian social. Manusia selalu butuh manusia lain dan selalu ada bentuk kasih sayang, contoh yang paling konkrit adalah kasih sayang ibu kepada anaknya. Didalam keluarga terdapat “Kasih ibu sepanjang waktu, Kasih anak sepanjang jalan” adalah suatu ungkapan yang sangat tepat. Dimana ibu merupakan teman setiap anak dan merupakan seorang sosok yang berperan sangat sangat sangat besar dalam kesuksesan anaknya.

Bahkan kisah sejarah mencatat, Cleopatra adalah ratu yang sangat kejam, kepada kawan maupun lawan. Tetapi ia tetaplah sosok seorang ibu yang mengasihi anaknya melebihi apapun. Disini dapatlah dilihat bahwa secara kodrat ibu adalah seorang yang rasa kasih sayangnya tak terbatas. Dapat juga disebut bahwa ibu merupakan “Tuhan” bagi anaknya. Karena pembentukan sosok anak dilihat dari kemampuan ibunya dalam mendidik dan mengasihi anaknya tersebut.

Tetapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan keinginan. Banyak ibu yang melupakan kodratnya itu. Kasih sayang ibu kini bernilai sebatas rupiah. Suatu dilema memang, tapi apa mau dikata. Teori hanya sebatas teori yang tidak lebih dari sekadar teori. Krisis Kasih Sayang. Itulah yang terjadi. Mengingat itu semua dapatlah kita semua memulai menyayangi manusia lain dengan harapan tercipta suatu kehidupan yang tenteram, sentosa dan nyaman bagi setiap manusia.

Bagaimana caranya agar kita dapat menunjukkan dan mulai mengasihi sesama? Caranya sangatlah mudah, bahkan dapat dimulai dari sekitar kita atau mulai dari hal yang kecil. Memperhatikan orang lain,mengasihi dan menyayangi orang tua, tanpa pamrih mengikuti gerakan social dan mulai menanamkan budaya peduli terhadap sesama dalam diri kita masing masing.

Sehingga nanti anak cucu kita dapat mengatakan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang mengutamakan kasih sayang dalam sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Dan tetap terjaganya kebudayaan kita dibawah satu nama: NKRI!

Advertisements