..Sibolga-Sumatera Utara..

Pagi… Kudengar suara gemuruh dan ramai orang..
Bukan.. bukan petir atau kebakaran..
Ya.. mereka menghampiri rumahku..
Rumahku satu-satunya..
Rumah peninggalan suamiku yang pernah berjasa pada negeri ini..
Tapi kini kau tiada suamiku.. Andai kau tahu perlakuan mereka padaku…

Suara gemuruh itu semakin dekat.. kulihat apa gerangan..
Mesin-mesin berat! dan puluhan orang berseragam..
membawa pentungan..
Apa dosaku Ya Tuhan?

“Ayo bongkar!”
demikian teriak seorang bertubuh tambun, kepada anakbuahnya..
YA, aku tahu kalian muda..
Muda dan bersemangat..

Sementara aku tua dan tidak berdaya..
lemah sudah tulangku untuk melawan..
habis sudah suaraku untuk berteriak..
Nafasku mungkin hanya untuk esok..

“bongkar!! apa yang kalian tunggu?”
si tambun kembali berteriak..
perut besar karena uang rakyat..
wajah sangar karena tamak..
suara kasar karena didikan atasan..

“tidak bisa dan, ada nenek tua didalam melawan”
Ya nenek tua itu aku..

Aku hanya bisa menangis..
Memohon..
“jangan..jangan gusur rumahku”
” dimana lagi aku akan berteduh??”
“dimana lagi aku akan hidup??”

Tangisan ku lirih..
Mesin itu semakin mendekat..
meluluhlantakkan rumahku..
Suamiku, inilah aku sekarang..

MAafkan aku, tubuh rentaku tak sanggup lagi bertahan..
Anak-anakmu pun telah pergi dan bahagia dsana..
bersama pilihan hati mereka..

“BRAAAKKK!!”
papan demi papan jatuh..
namun tubuh tuaku tak beranjak sedikit pun…
aku akan bertahan..

Dalam hatiku, dimana pemimpinku..?
dimana keadilan yang kau janjikan ??
dimana kemakmuran yang kau dengungkan???

“hei nenek tua.. Ayo minggir dari situ!!”
si tambun mengusirku..
Anak muda, tahukah kau bagaimana bersikap pada orang tua??
tahukah kau dosa??
kenalkah kau Tuhan??

“jangan tuan, kumohon..jangan gusur aku”
aku kembali menangis..

tangisan tanpa henti..
kutadahkan tangan meminta keajaiban Tuhan..

Dimana keadilan kucari???