aku hanya ingin menjadi kuat…
walau hujan menempa lebat…
seperti kokohnya besi baja…
tak bergeming walau diterpa…

biarlah semua tak putus menuju…
tak bosan mengoyak hati…
bagai nafsu menggoda ikhlas…
harapku hanyalah satu…
kesabaran tak lelah menyambut…

kuanggap semilir angin pancaroba…
yang lembut berhembus,
panas memancing amarah…
membawa kelam masa lalu…
akan kuhadapi walau enggan…

termenung aku di tepian malam…
khayalku liar terbang melayang…
namun sekelilingku terasa muram kelam…
entah dimana cahaya menerang…
tak ada lagi panduan…
aku terkulai,
penuntun hilang…
berkawan gelap,
tiada sinar…

hanya tersisa rindu,
menumpuk sesak di dada…
hati terus mendamba memencar harap…
bagai menanti yang tak berujung…

aku bagai penguasa malam…
bertahta hening bermahkota hampa…
berteman selir-selir sunyi…
berdamping permaisuri sepi…
aku lah sang raja malam…
yang bersinggasana kesunyian…

kepingan hati yang berserakan…
yang terurai nyaris menjadi serpihan…
kini telah mulai lagi menyatu…
seiring berjalannya sang waktu…

mengeras,
akan menjadi batu…
tak mau lagi terkoyak…
walau beribu kecewa datang…
meski harus sakit jatuh bangun…
tak ingin lagi retak terpecah…
ya, hanya itu harapku…
hatiku akan kuat bagai batu…

datanglah engkau hai segalanya…
semua yang membuatku sempat terkulai…
hadirilah aku sebanyak yang kalian mau…
akan kusambut kalian dengan segenap rasa…
dan kusuguhkan kalian dengan terima kasih…

malamku masih berteman sepi….
dadapun masih mendekap rindu…
masih bersemayam nama dihati…
yang tetap menggerayang kalbu…

masih tak kuasa,
akupun tak mau memaksa…
biar saja hati merasa…
akan hadirnya cinta…

masih saja kumemanggil,
sebuah nama yang terdamba…
dikala malam hening meraja…
walau telah melayang asa…

tak pernah ada rasa tega dihati…
walau dia datang membawa kecewa…
tapi selalu saja ada maaf untuknya…
entah bilakah tibanya lelah diri…

aku memanglah aku,
kau bilang bodohpun percuma…
sapamu tak kuasa kuacuhkan…
selalu saja bersambut,
tapi engkau tak mau mengerti…
walau jejak langkah telah tertera…

hai engkau yang disana,
cobalah untuk kau pahami…
ikhlasku bukannya tak terbatas…
suatu saat akan habis terkikis…
bila kau tak kunjung sadar juga….
terus saja menggerus tiada bosan…

atau memang harus demikian…?
entahlah aku tak mau menunggu…
wahai engkau yang selalu benar,
sadarlah…
semua demi dirimu juga…

Advertisements