1. Mudah
mengucap kalimat-kalimat yang mengingat Allah Ta’ala seperti mengucap
syahadat dan sebagainya ketika sakaratul maut.

2. Keluar peluh atau butiran-butiran keringat di dahi.
Sebab tempat ini merupakan jalan akhir berpisahnya ruh dengan jasad.

3. Mati pada hari Jum’at.

4. Mati dalam perang membela agama Allah Ta’ala (Jihad).

5. Mati dalam keadaan baik di tempat-tempat yang baik.

6. Mati ketika sedang melakukan ibadah atau sedang beramal salih.

7. Bibir tersenyum dan bola mata terbuka mengikuti perginya ruh dari jasad kita. Maka dari itu, jika melihat hal seperti itu kita disunnahkan untuk segera menutup kelopak matanya.

Subhanallah Walhamdulillah Walalillaha Illalah Allahuakbar

Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
puas lagi diridhai-Nya. masuklah ke dalam syurga-Ku.
AlFajr:27-30

Siapakah sebenarnya orang yang mati dalam keadaan khusnul khatimah itu?
Apa tanda-tandanya?

Alam kubur merupakan kepastian. Mau tidak mau setiap orang akan melaluinya. Dari alam kubur inilah setiap manusia akan tahu, kapan ia nanti singgah selamanya. Di surga dengan seluruh kenikmatannya ataukah di neraka dengan adzab-Nya yang keras. Banyak orang yang menginginkan mati dalam keadaan khusnul khatimah. Cukuplah akhir dari kehidupan dunia sekaligus awal dari alam kubur yang baik, jika seseorang dikarunia khusnul khatimah (meninggal dalam keadaan yang diridhai Allah). Karena jelas, huru-hara di alam kubur sangatlah dahsyat. Rasulullah sendiri sering berdo’a agar diselamatkan dari fitnah kubur. Khusnul khatimah, maknanya adalah mengakhiri hidup dengan baik. Yaitu mengakhiri hidup dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Secara logika agama Islam itu mudah sekali, yang penting itu adalah mengakhiri hidup dengan khusnul khatimah. Apakah sepanjang hidupnya yang lain tidak taat, tidak takwa tidak jadi soal. Karena itu memang banyak orang Islam berkata, .…”nanti kalau saya udahtua….saya akan taat”.

Almarhum Prof. Mr Kasman Singodimejo, pernah berkata : “Dalam Islam itu yang penting matinya khusnul khatimah. Hidupnya sebelumnya bejat, nggak jadi soal. Yang penting matinya khusnul khatimah. Tapi masalahnya, tahukah saudara, kapan saudara akan mati? Kalau saudara tahu: ya boleh saja mengumbar kehidupan semaunya, begitu tiga tahun lagi akan meninggal dunia, langsung hidupnya taat sehingga mendapat khusnul khatimah. Tapi … masalahnya saudara kan tidak tahu kapan saudara mati! Supaya saudara mati dalam keadaan khusnul khatimah. maka hendaklah hidupdalam taat dan takwa. Karena hanya dengan itu ada jaminan saudara akan mati dalam keadaan khusnul khatimah!”

Lebih lanjut contoh : “Seperti mahasiswa, yang paling beruntung itu tidak belajar, tapi lulus. Yang normal itu tidak belajar,ya tidak lulus. Yang normal itu belajar dan lulus. Yang malang itu, belajar tapi tidak lulus. Supaya lulus, yang normal ialah dengan belajar. Karena itu mahasiswa yang mau lulus tentulah harus belajar!”.

Nah,…. seperti teman saudara penanya, ternyata maut menjemputnya disaat dia masih jauh dari umur45 tahun. Apakah dia khusnul khatimah? Wallahu alam, karena hal itu adalah, tergantung kepada Allah SWT. Hanya dari sudut zahirnya, seperti saudara penanya katakan teman itu adalah seorangyang tidak taat dan tidak takwa. Mengenai paman yang alim, insya Allah beliau mengetahui bahwa setiap orang yang beriman itu akan mendapat ujian. Para nabi dan para rasul saja mendapat berbagai ujian yang berat-berat, dan diantaranya berupa ujian penyakit berat yang menahun. Bahwasanya orang takut kepada mati adalah wajar. Bahwasanya orang
mengeluh ketika mendapat musibah juga adalah normal. Sepanjang ketakutan kepada mati dan keluhan terhadap musibah tidak sampai meninggalkan perintah dan larangan Allah SWT serta tidak berburuk sangka kepada Allah SWT dan takdir-Nya, insya Allah masih berada dalam koridor yang dibolehkan.

“Orang mukmin” itu kata Rasulullah SAW adalah beruntung : “Mereka syukur ketika mendapat nikmat dan sabar ketika mendapat musibah” (HR Imam Muslim) Mudah-mudahan kita semua begitu. Amin.

Nah, jika untuk 100 tahun di dunia saja manusia mati-matian mencarinya apalagi untuk kehidupan yang kekal abadi? Adakah orang pandai memilih menukar kehidupan yang hanya 100 tahun dengan sesuatu hal yang abadi?

Inna Illahi Wa Innaillahi Raji’uun

Semoga kita semua mati dengan Kesudahan
yang Baik (Khusnul Khatimah).” Amin

Advertisements